Kominfonews, (29/4) – Pemerintah Provinsi Bengkulu langsung tanggap terkait Bencana Alam Tanah Longsor yang melanda PT Pertamina Geothermal Energy lokasi Cluster A Project Hululais di Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Bengkulu, Kamis (28/4) Pukul 04.30 WIB.

Gubernur Bengkulu, H. Ridwan Mukti mengintruksikan untuk mengirimkan bantuan melalui Asisten II, dr. H. Iskandar ZO, M,Si yang langsung turun ke lokasi bencana alam,Jumat (29/4) dengan melibatkan BPBD Provinsi Bengkulu untuk langsung turun ke lokasi Bencana membantu evakuasi korban yang masih tertimbun material longsor.

Menurut Informasi sebelumnya, Longsoran tersebut berasal dari Bukit Beriti Besar/Gedong Hululais yang berjarak sekitar 2.5 km dari lokasi Cluster A, menyebabkan tertimbunnya aset-aset produksi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Pada saat kejadian beberapa pekerja mitra PGE sedang bertugas melakukan monitoring sumur dan pengawasan water pump station (WPS) yang digunakan untuk suplai air bagi operasi pemboran.

Berikut data korban bencana longsor yang langsung berhasil dievakuasi:

  1. Jhon (meninggal dunia)
  2. Roni Dhoris (suspect trauma kandung kemih)
  3. Slamet Amaro (luka berat)
  4. Azimi (luka berat)
  5. Sofiyan (luka ringan)
  6. Istri Roni Doris

Korban hilang yang belum dapat ditemukan hingga pukul 13:30 pada 29 April 2016:

  1. Sarnobi
  2. Edyo Bitu
  3. Deki Karnando
  4. Anak dari Roni Doris

Menurut Asisten II Pemda Bengkulu, dr. H. Iskandar ZO, M.Si yang langsung memantau di lokasi kejadian mengatakan “Kejadian ini murni Bencana Alam, sebab menurut Informasi dari masyarakat memang curah hujan di Kabupaten Lebong cukup tinggi selama sepekan terakhir ini.

“Saya juga melihat beberapa pohon dilokasi longsor ini banyak yang tumbang (gundul), ini juga tentunya menyebabkan terjadinya runtuhan tanah dari atas, karena sudah tidak ada lagi yang menahan tanah,”Ungkapnya.

Ia berharap kedepannya tidak ada lagi penebangan pohon di hutan, jika kedepannya tetap dilakukan pasti akan muncul lagi bencana yang sama, “Kedepan hendaknya kita jangan menebang pohon di hutan yang berpotensi terjadi bencana tanah longsor, jika tetap dilakukan tentunya kejadian ini akan berulang dikemudian hari,”tutup Asisten II. (dim/more)