Kominfonews (24/8). Generasi Z pada era digital Punya Potensi Besar  dan tentu sangat dibutuhkan kehadirannya dalam mengekspose daerah ke mata dunia melalui kemahirannya menggunakan jejaring media sosial.

“Potensi pemuda itu kalau diarahkan ke hal yang positif itu akan sangat bermanfaat. Tapi sebaliknya salah sedikit kita mengarahkan mereka ini atau mereka masuk pada satu zona yang membahayakan, ini menjadi sangat rusak akibatnya,” terang Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, usai memberikan pengarahan pada Audensi Pemilihan Duta Zetizen Tahun 2017, di Ruang Rapat Rafflesia, Rabu (23/08).

Terkait hal tersebut, Plt Gubernur Bengkulu juga meminta kepada setiap keluarga dan semua pihak, agar membimbing dan mengarahkan Generasi Z ini secara baik. Sehingga anak muda yang juga dikenal sebagai Generasi Milenium, bisa mendapatkan masa depan cerah dan bukan sebaliknya. Terlebih bisa berkontribusi membangun Provinsi Bengkulu.

“Dengan wawasan dan integritas yang bagus, kemampuan speaking, kemampuan bahasa yang baik, sehingga mereka nanti ketika tampil mewakili Bengkulu itu betul-betul bisa menjadi duta dengan personality yang baik,” tambah Rohidin Mersyah.

Duta Zetizen ini merupakan inisiasi salah satu media lokal Bengkulu dalam memberikan wadah kepada para Generasi Z untuk mengeksplorasikan diri mereka ke arah positif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“20 finalis Duta Zetizen 2017 merupakan good influenz anak muda Provinsi Bengkulu dengan berbagai aksi positifnya, seperti di bidang lingkungan, sosial, pendidikan, kesehatan serta budaya. Jadi dengan masukan positif dari Pak Rohidin, anak muda provinsi ini lebih baik lagi,” jelas Project Officer Zetizen Rakyat Bengkulu (RB).

Untuk diketahui, Generasi Z merupakan anak-anak yang terlahir mulai 1990 atau sesudah 1994 yang hidup di masa digital. Menurut para pakar, Generasi Z yang disebut juga Generasi Milenium, memiliki karakter yang menonjol yaitu suka akan tantangan.

Selain itu, kehidupan sehari-hari anak Generasi Z biasanya menggunakan earphone atau mobile phone yang menempel di telinganya, baik di rumah, perjalanan, maupun tempat umum. Generasi Z tidak lagi terlibat secara fisik dengan orang lain, tetapi lebih banyak melalui dunia maya. (Rian-Media Center Pemprov Bengkulu).