Kominfonews (14/11/17).Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu gelar High Level Meeting semester II tahun 2017 dan Workshop TPID dengan tema Strategi Efektif Pengendalian Inflasi Bengkulu.

Acara yang dibuka Sekda Province Bengkulu Gotri Suyanto ini, menghadirkan Asisten Deputi Moneter dan Neraca Pembayaran Kemenko Perekonomian sekaligus anggota Pokjanas TPID Edi Prio Pambudi sebagai narasumber.

Dijelaskan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu, Endang Kurnia, hingga Oktober inflasi Bengkulu berada pada angka 2,87 % turun dari tahun sebelumnya yang berada pada angka 5,43 %, lebih rendah dari inflasi nasional yang 3,58%.

Penurunan angka inflasi ini dipengaruhi oleh langkah pemerintah daerah menggandeng maskapai penerbangan untuk menambah jumlah armada dan rutenya langsung ke beberapa provinsi tetangga.

“Kontribusi terbesar adalah yang tadinya selalu agak bandel inflasi angkutan udara, sekarang turun drastis. Kami juga ingin menyampaikan apresiasi kepada pak gubernur, membuka jalur angkutan udara yang baru,” ungkap Endang.

Asisten Deputi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi, mengapresiasi kinerja TPID Provinsi Bengkulu yang mampu menekan angka inflasi dengan melakukan inovasi membuka rute penerbangan baru ke beberapa provinsi tetangga antara lain Palembang, Padang dan Jambi. Sebelumnya dijelaskan TPID Bengkulu, angkutan udara sangat mempengaruhi angka inflasi di Provinsi Bengkulu.

“Saya kira langkah pemda, merupakan suatu terobosan dengan menggandeng maskapai menambah penerbangan langsung itu sangat baik untuk menurunkan inflasi,” ujarnya.

Merespon rute angkutan udara yang semakin ramai dan langsung tanpa transit di jakarta, Edi mengusulkan agar pemerintah serius membangun sektor pariwisata yang ke depan akan menjadi andalan penghasil devisa.

Dalam pertemuan ini, juga disampaikan program program dan inovasi pengendalian inflasi daerah lainnya. Diantaranya penandatanganan kerjasama ternak sapi antara pemerintah provinsi Bengkulu dan Nusa Tenggara Timur.

Komoditi daging sapi merupakan salah satu penyumbang inflasi terutama pada saat menghadapi hari hari besar keagamaan, dikarenakan pada saat itu permintaan daging meningkat.

Model kepemilikan sapi yang umumnya merupakan usaha sampingan, mengakibatkan suplai sapi siap potong tidak mampu memenuhi kebutuhan sehingga harus mendatangkan sapi dari provinsi tetangga dengan harga yang relatif tinggi.

Mengatasi hal tersebut pemerintah memfasilitasi terjalinnya tata niaga sapi melalui kerjasama antar badan usaha milik petani (BUMP) provinsi Bengkulu dengan BUMP Provinsi NTT.

Sekda Provinsi Bengkulu Gotri suyanto berharap, pertemuan TPID semester II ini menjadi langkah nyata menghasilkan solusi yang lebih kongkrit dalam mengatasi inflasi daerah dan mendorong peningkatan ekonomi daerah dan nasional. (Fredy-Media Center, Humas Pemprov Bengkulu)