Kominfonews(07/20). Paham radikalisme bukan saja menyusup pada perguruan tinggi berbasis keagamaan saja, namun telah tumbuh di kampus-kampus perguruan tinggi umum.

Seperti laporan penelitian oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Departemen Agama (Depag) RI, pada tahun 1996, terdapat peningkatan kegiatan keagamaan terhadap kampus-kampus di perguruan tinggi umum terkemuka di Indonesia, seperti Universitas Gajah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin dan Universitas Indonesia.

Hal ini terjadi, karena perguruan tinggi sekuler, dianggap lebih mudah menjadi target rekruitmen gerakan radikal. Sementara itu, kampus berbasis keagamaan dianggap sulit untuk disusupi. Sedangkan kenyataannya, kampus berbasis keagamaan tersebut sudah marak dan subur menjadi basis gerakan radikal.

“Walaupun penelitian tersebut sudah lama, namun masih relevan untuk diwaspadai penyebaran paham radikal di perguruan tinggi,” sebut Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Ricky Gunarwan, membacakan kata sambutan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, saat membuka acara Dialog Perlibatan Lembaga Dakwah Kampus dan Birokarasi Kampus dalam pencegahan terorisme, di Gedung Rektorat Universitas Bengkulu (UNIB), Rabu (19/7).

Dari hal diatas, sambung Ricky, didapati adanya perubahan di dalam perguruan tinggi berbasis keagamaan itu sendiri, serta adanya metamorfosa atau perubahan bentuk dan startegi di internal gerakan-gerakan radikal.

Selain itu, kata Ricky, pada penelitian yang dilakukan oleh pihak Lembaga Ilmu Pendidikkan Indonesia (LIPI) baru-baru ini, telah menemukan pola-pola radikal di Indonesia, salah satunya melalui penyusupan pada organisasi-organisasi kemahasiswaaan di tingkat kampus, dan sebagian besar terdapat di perguruan tinggi non keagamaan.

Atas hal tersebut, Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sangat mengharapkan para mahasiswa penggiat, pengurus lembaga dakwah kampus ataupun organisasi kemahasiswaan, untuk dapat lebih waspada terhadap bahaya penyusupan kelompok radikal dan ekstrim tersebut.

“Perlu kita pahami bersama, aksi radikal, teroris dan ekstrim itu hanya akan membawa kehancuran dan pengrusakan hidup yang damai, karena damai itu indah,” sebut Ricky.

Acara yang diprakarsai oleh GNPT pusat bersama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu ini, dihadiri juga oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Provinsi Bengkulu, serta perwakilan dari lembaga dakwah kampus pada perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di Kota Bengkulu.

Menurut ketua FKPT Provinsi Bengkulu Brigjen (purn) Iskandar Ramis, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar pada lembaga dakwah kampus, dalam mencegah terorisme dan radikalisme.

“Perlu dimanfatkan kearifan lokal, guna mencegah dan menanggulangi paham radikal dan terorisme yang berkembang di masyarakat,” kata Iskandar Ramis.

Sementara itu, menanggapi akan bahaya penyusupan gerakan radikal ke kampus umum seperti di Universitas Bengkulu, Rektor UNIB, DR.Ridwan Nurazi mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait seperti dosen-dosen bidang keagamaan, agar dapat merubah metode pengajarannya untuk mencegah pemahaman yang salah pada pelajaran keagamaan.

“Nanti akan kita lihat dan kita cek pada organisasi kerohaniannya, maupun pada metode pengajaran keagamaannya” ujar Ridwan.

Selain itu, lanjut Ridwan, pihaknya juga akan melakukan pengajaran tentang NKRI pada mahasiswa baru, bekerjasama dengan pihak Korem 041/Gamas Bengkulu.

“Agar anak-anak mahasiswa yang baru nanti mendapatkan pencerahan kembali tentang NKRI serta mewaspadai gerakan radikal dan terorisme di dalam kampus-kampus,” tutup Ridwan. (Saipul-Media Center Pemprov)