Gubernur Rohidin: New Normal, Semua Harus Disiplin

Published by TD on

Bengkuluprov – Penerapan new normal menurut Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, harus dilaksanakan dengan kedisiplinan yang tinggi oleh semua pihak agar tatanan baru tersebut dapat terlaksana dengan baik.

“Sebenarnya virus itu biasa saja, kita jangan terlalu panik dan ‘galau’. Namun memang karena sebagian besar kita belum terbiasa dengan pola hidup sehat yang menerapkan kedisiplinan yang tinggi,” ungkap Gubernur Rohidin saat Syawalan Nasional Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) dengan Tema ‘New Normal Indonesia’ melalui virtual meeting, bertempat di Gedung Daerah Balai Raya Semarak Bengkulu, Sabtu (6/6).

Gubernur Rohidin menambahkan, sebagaimana Islam yang tidak pernah panik dalam menghadapi segala persoalan. Covid-19 adalah sebuah tantangan bersama, beliau yakin kita akan bisa melewati masa-masa sulit ini dengan baik. 

“Mendengar kata new normal kadang diplesetkan orang, padahal sesungguhnya yang dikatakan pemerintah itu adalah sebuah konsep kewajaran baru menjadi sesuatu yang bisa diterima secara umum. Misalnya, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dulu itu yang diimbau untuk cuci tangan hanya anak TK dan anak SD, padahal kan cuci tangan dilakukan semua orang,” papar Rohidin yang pernah menjabat sebagai Komisariat Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada ini.

Sementara itu, Pengurus Besar HMI Afandi Ismail menjelaskan wabah Covid-19 sebagai ujian dari Allah, maka yakinlah bahwa ujian tersebut akan berakhir dengan adanya ikhtiar maksimal.

“Kami sebagai Pengurus Besar HMI memberikan dukungan atas ihktiar maksimal yang telah dilakukan pemerintah dan partisipasi dari seluruh keluarga besar HMI untuk memutus mata rantai Covid-19 di wilayah masing-masing. Semoga wabah Covid-19 ini segera berakhir,” pinta Afandi.

Hal senada juga diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan. Menurutnya, di masa pandemi saat ini ada dua tantangan besar yang dihadapi DKI Jakarta, yakni tantangan ekonomi dan tantangan kesehatan. 

“Covid-19 menyebabkan terjadinya krisis ekonomi dan krisis kesehatan. Tapi kita harus sadari juga dalam waktu tiga bulan terakhir kita mengalami lompatan pemanfaatan teknologi sebagai media komunikasi. Kegiatan agama, sosial, budaya maupun ekonomi bisa dilakukan dengan teknologi. Contoh saja halal bihalal yang kita gelar hari ini,” ujar Anis.

Anis menambahkan, hal positif dari berkurangnya aktivitas di luar rumah membuat langit Jakarta menjadi biru disertai udara yang bersih.

“Kota-kota yang mengalami pembatasan sosial menjadi bersih dan tenang. Lingkungan menjadi sehat, dulu kan tidak merasakan yang seperti ini,” pungkas Anis. (Etri)


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two + eleven =