Perang Karbala dalam Tari Kreasi Tabut Bengkulu

Published by TD on

Atraksi budaya diiringi hentakan energi magis musik dol, semakin memperkokoh nuansa sakral lomba tari kreasi pada Festival Tabut 2017. Acara yang digelar di Lapangan Merdeka Kota Bengkulu ini dibanjiri ribuan penonton dari berbagi daerah.

Lomba Tari Kreasi Tabut yang sebagian besar mengangkat tema peristiwa “Padang Karbala” ini, menyajikan sebuah peristiwa yang dikemas dalam seni tari. Perpaduan alunan ritmik musik Dol dan visualisasi perang Karbala yang dikolaborasi dengan gerakan-gerakan khas daerah yang estertis, menjadi daya tarik tersendiri.

Lomba ini selain ajang kompetisi kreasi seni tari, juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturrahmi para seniman dan penggiat seni di Provinsi Bengkulu. Lomba ini digelar dalam rangka pengembangan kebudayaan dan kesenian daerah.

Kriteria penilaian Lomba Tari Kreasi Tabut ini meliputi penataan, penampilan dan keserasian antara tema, judul, tari dan musik.

Menurut Ketua Dewan Juri, Syukri Ramzan, secara kreatifitas para peserta Tari Kreasi Tabut 2017 sudah lebih bagus dibanding lomba tari tahun sebelumnya, “sudah ada peningkatan, hanya saja untuk memvisualkan sebuah peristiwa dalam bentuk tari kreasi perlu diperbaiki lagi,” ujar Peraih The Best Performance Solo International Ethnic Music 2007 ini di Panggung Tari Kreasi, 22/9/2017.

Tari bertema, lanjut Syukri, mesti ada alur di dalamnya, harus bercerita, serta harus ada simbol-simbol yang dimunculkan.

“Untuk menjadi yang terbaik, peserta harus berhasil mensinkronkan ide, judul, sinopsis dan kesesuaian dengan gerak tari,” tambah Syukri yang juga Pemusik Dol Bengkulu tersebut.

Lomba Tari Kreasi sebagai bagian dari festival Tabut yang juga peristiwa sakral, menurut Syukri, para penggarap tari tidak hanya menonjolkan aspek estetika dan artistik saja, namun pertimbangan etika perlu diperhatikan.

Festival Tabut sebagai salah satu event tahunan Provinsi Bengkulu yang masuk dalam kalender event Nasional tersebut, menjadi identitas Bengkulu di mata nasional maupun internasional, “Tabut sudah menjadi warisan budaya,” ujar Ptl Gubernur Bengkulu saat sambutan dalam pembukaan festival Tabut 2017.

//Sanggar Muaro Raflesia Juara Tari Kreasi Tabut 2017

Berdasarkan penilaian yang dibacakan Ketua Dewan Juri, Syukri Ramzan, Sanggar Muaro Raflesia keluar sebagai Juara I dengan nilai sebesar 755.

Sanggar Muaro Raflesia dalam penampilannya, mengangkat tema prosesi perayaan Tabut Bengkulu. Mulai dari pengambilan tanah pada 1 Muharram, Duduk Penja, Meradai, Menjara, Arak Penja, Arak Serban, Gam, Arak Gedang, dan Tabut Terbuang yang biasa dilaksanakan tanggal 10 Muharram.

Ide garapan Sanggar Muaro Raflesia, mengangkat sebuah peristiwa pada Bulan Muharram dengan memadukan musik, tari, syair dan doa-doa untuk cucu Nabi Muhammad, yakni Imam Husien.

Untuk Juara II dengan selisih 3 point, diraih Sanggar Puspa Kencana Budaya dengan nilai sebesar 752, dan Juara III berhasil diraih Sanggar Seni Salsabila dengan skor 745.

Sedangkan Juara Harapan I, keputusan Dewan Juri jatuh pada Sanggar Adyfa dengan nilai 738, Juara Harapan II diraih Sanggar Gatra dengan skor 730, dan
Juara Harapan III diraih Sanggar Cahaya Rembulan dengan skor sebesar 720. (Media-Center Pemprov Bengkulu)


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven − one =